Sabtu, 28 Mei 2011

Ayo Berkebun !!!!

Bekerja apa nampang doank
Tarikkk mangggg....

Ikat yang kencenggg....

Maaf bukan ninja tapi malu.....

Tenaga Harian Lepas

Taaa.... da......

Bersemilah sayurku....

Suburlah cabeku....

Suegerrrrr

Siap cabuuuttt

Organik broooo

Selasa, 24 Mei 2011

BUDIDAYA TOMAT ORGANIK


1.      Pembibitan
Kebutuhan benih tanaman tomat adalah 100 – 150 gram/ha. Sebelum disemaikan terlebih dahulu benih direndam dalam larutan mikroba dan molase 1 – 10 ml per 1 liter air. Benih tanaman tomat disemaikan dalam media semai yaitu dalam polybag yang berisi campuran bokhasi dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Tiap polybag ditanam satu benih. Polybag tersebut disimpan di tempat ternaungi dan ditutup dengan karung. Setelah 7 – 10 hari  atau benih mulai tumbuh, tutup dibuka. Selama masa pertumbuhan, pemeliharaan bibit di persemaian dilakukan secara intensif dengan pengawasan kontinu.
2.      Pengolahan tanah
Tanah dicangkul sampai gembur, dibuat bedengan dengan lebar 100 cm, tinggi 30 – 40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan dengan jarak antarbedengan (saluran drainase) 50 cm. Setelah lahan dibiarkan selama satu minggu, disebarkan bokhasi sebanyk 5 – 10 ton/ha dan ditutup dengn tanah, kemudian disemprot dengan larutan mikrobia, molas, dan air.
3.      Penanaman
Setelah bibit berumur tiga minggu atau tinggi mencapai ± 10 cm bibit dapat dipindahkan ke tempat penanaman. Penanaman dilakukan pada lubang tanam (ditugal) dengan jarak tanam 50 x 60 cm yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan cara menyobek polybag pada garis sobek dan menanam dengan disertakan media persemaiannya. Penanaman sebaiknya dilakukan sore hari untuk mencegah pelayuan. Tanah di sekitar tanaman yang baru ditanam diberi sekam padi sebagai mulsa organik yang disebar melingkar ± 10 cm dari pangkal tanaman. Pemberian mulsa organik ini bertujuan untuk menghambat penularan hama/penyakit dari tanah.
4.      Pemeliharaan
a.       Penyiraman
Penyiraman dilakukan intensif terutama pada awal pertumbuhan tanaman di lahan. Penyiraman dilakukan tiap hari, terutama apabila tidak turun hujan.
b.      Penyulaman
Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang rusak, mati, pertumbuhannya tidak normal, atau tanaman yang terserang hama dan terinfeksi patogen. Penyulaman dilakukan sampai dengan 7 – 10 hari setelah tanam dengan bibit tanaman yang tersisa dalam persemaian.
c.       Pemasangan ajir/lanjaran
Setelah tanaman tomat berumur satu minggu maka dilakukan pemasangan ajir/lanjaran (tinggi ± 200 cm) dan diikat antarujungnya sehingga membentuk segitiga sama kaki.
d.      Pengikatan
Pengikatan batang tanaman pada ajir dilakukan setiap minggu pada tanaman tomat yang berumur 3 – 4 minggu sampai pertumbuhan tanaman terhenti. Pengikatan ini bertujuan untuk mencegah kerebahan tanaman tomat dan untuk mempermudah perawatan.
e.       Pemangkasan tunas
Pemangkasan dilakukan pada tunas-tunas air yang tumbuh di ketiak daun dengan menggunakan gunting. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi jumlah cabang/ranting (pertumbuhan vegetatif) sehingga merangsang pertumbuhan generatif, meningkatkan penerimaan sinar matahari, memudahkan perawatan, dan meningkatkan kualitas buah.
f.       Perempelan daun
Perempelan daun dilakukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala serangan penyakit atau gejala terinfeksi penyakit agar tidak menular ke tanaman/bagian tanaman yang sehat. Selain itu, perempelan juga dilakukan pada daun-daun yang terlalu lebat atau sampai menyentuh tanah untuk mencegah kerusakan dan meningkatkan penerimaan sinar matahari.
g.      Pemupukan susulan
Pemupukan susulan dilakukan satu minggu setelah tanam dan kemudian tiap 10 hari sekali dengan pupuk pelengkap cair (PPC). Pemupukan ini dilakukan dengan menyiramkan PPC pada daerah sekitar perakaran tanaman dengan dosis 100 – 150 ml pertanaman.
h.      Penyiangan
Penyiangan dilakukan 3 – 4 kali atau tergantung dengan kondisi lahan. Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan tangan langsung atau dengan alat bantu berupa sabit atau cangkul. Penyiangan mempunyai tujuan untuk membersihkan gulma untuk mengurangi persaingan dalam penggunaan unsur-unsur biotik bagi pertumbuhan tanaman dan mencegah penularan penyakit dari gulma.
i.        Pengendalian hama dan penyakit tanaman
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan Effective Microorganisms Fermented Plant Extract atau pestisida nabati pada tanaman tiap satu minggu sekali atau lebih tergantung kondisi tanaman. Pestisida nabati yang digunakan bervariasi tergantung hama/penyakit yang menyerang. Dosisnya 10 ml tiap satu liter air atau dapat ditambah tergantung tingkat kerusakan yang timbul pada tanaman.
Beberapa hama dan penyakit yang merusak tanaman tomat antara lain :
Ø  Ulat buah (Helionthis armigera)
Hama ini menyerang pada buah yang masih muda sehingga jika buah sudah tua tampak berlubang banyak dan membusuk. Pengendalian hama ini dilakukan dengan pembersihan gulma di sekitar tanaman tomat dan penyemprotan pestisida nabati berbahan dasar cabe.
Ø  Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Gejala yang ditimbulkan hama ini adalah terpotongnya tanaman muda pada bagian pangkal batang. Pengendaliannnya dengan pendangiran yang teratur, dan penyemprotan pestisida nabati cabe terutama dilakukan pada pagi hari.
Ø  Belalang
Hama ini menyerang daun tanaman tomat yang ditandai dengan bekas gigitan pada ujung-ujung daun. Hama ini dikendalikan dengan penyiangan yang teratur dan penyemprotan pestisida nabati jarak.
Ø  Busuk daun (Phythoptora investans)
Penyakit ini paling banyak dijumpai pada budidaya tanaman tomat di dataran tinggi seperti Wonosobo. Gejala awal berupa bercak kebasahan pada tepi atau tengah daun kemudian melebar sampai daun berwarna coklat kehitaman. Bercak dikelilingi oleh spora berwarna putih kelabu. Kerusakan biasanya menyebar ke bagian batang, tangkai, dan buah tomat. Penyakit ini akan cepat menular apabila muncul kabut atau hujan lebat.
Pengendaliannya dengan perempelan daun yang telah terinfeksi, mencabut dan membuang tanaman yang telah rusak berat, dan penyemprotan pestisida nabati campuran antara ekstrak daun nimba, jarak, dan daun suren atau dengan pestisida nabati jahe. Apabila penggunaan pestisida organik ini hasilnya kurang optimum maka biasanya untuk mengurangi kerugian terpaksa digunakan pestisida kimia.

5.      Panen
Buah tomat sudah siap panen perdana pada umur ± 75 hari setelah tanam. Kriteria masak petik yang optimal antara lain : kulit buah berwarna kekuningan, bagian tepi daun tua telah mengering, dan batang tanaman telah menguning atau mengering. Cara panen buah tomat adalah dengan dipetik secar hati-hati agar tidak rusak. Patahkan tangkai buah sambil memegang ujung buah dengan telapak tangan. Hati-hati agar kelopak bunga jangan sampai lepas. Hasil petikan buah segera dimasukkan ke dalam keranjang. Waktu panen yang tepat adalah pada cuaca cerah. Panen buah tomat dapat dilakukan sampai 16 kali dengan interval panen tiap 3 – 4 hari sekali.

Senin, 21 Februari 2011

Refresh...


Disadari ataupun tidak, segala sesuatu di sekitar kita senantiasa berubah. Dari tanah tegalan banyak bermunculan gedung-gedung berasap secepat tumbuhnya jamur di tanah lembab. Sawah di sekitar kita tumbuh subur perumahan, bahkan di pinggir sungai pun bertebaran hunian manusia. Laju pertumbuhan manusia yang begitu cepat memunculkan persaingan yang semakin ketat. Kita dituntut untuk bereaksi cepat dan bergerak lincah untuk memenangkan ketatnya kompetisi sepanjang musim siklus kehidupan kita.


Tuntutan yang serba cepat dan harus akurat banyak menguras energy, keringat, bahkan air mata. Semua itu seringkali membuat control emosi kita melemah bahkan lepas kendali sehingga suara hati nurani yang pure hanya sayup-sayup kita dengar, maka yang terjadi adalah sikap individualism, tidak peka terhadap sekitar, tidak peduli, ora urusan, sakarepe dhewe, dan yang penting saya menang. Lebih besar lagi sikap tersebut akan melahirkan korupsi, suap, kolusi, penindasan, penganiayaan, bahkan menghilangkan hak-hak orang lain dan lebih buruknya lagi hal-hal tersebut makin sering kita dengar dan saksikan terjadi di negeri kita tercinta ini.


Terkadang dengan kondisi dan kemampuan yang ada kita hanya bisa mengelus dada, menggerutu, mengumpat, atau paling banter berkomentar menyaingi komentar para pengamat di televisi. Daripada kita malah tambah mangkel tur anyel, marilah kita coba perbaiki diri sendiri. Kita refresh lagi pikiran dan jiwa kita untuk memunculkan ide-ide kreatif dan konstruktif sehingga minimal kita minimal bisa menolong diri sendiri dan keluarga kita. Apabila masing-masing kita sudah baik, dengan sendirinya bangsa ini juga akan menjadi baik bahkan yang terbaik.


Bagaimana kita mulai merubah dan me-refresh diri kita ???

ő     Mulailah merubah hal-hal dan kebiasan kecil dulu

ő     Rubahlah rutinitas yang monoton

ő     Luangkan waktu untuk rekreasi bersama keluaraga atau
teman-teman dekat

ő     Sediakan waktu untuk muhasabah, instropeksi diri

ő     Nikmati waktu bersama keluarga

ő     Buatlah banyak persahabatan dan relationship

ő     Tingkatkan pengetahuan dengan banyak berdiskusi atau 
membaca

ő     Kurangi kegiatan yang tidak perlu dan buang-buang waktu

ő     Raih kesempatan yang tersedia

ő    Sediakan waktu khusus untuk bermunajat dan curhat kepada Sang Pencipta Yang Agung

ő     Berdoa di setiap kesempatan

ő     Jangan mudah menyerah.


Rabu, 08 Desember 2010

POC (PUPUK ORGANIK CAIR)


Pembuatan Pupuk Organik Cair :

Bahan dan Alat
Ø  1 liter bakteri pengurai
Ø  5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya)
Ø  0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya
Ø  1 kg gula pasir/merah/molase (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air 30 liter
Ø  Kotoran hewan
Ø  Air secukupnya
Ø  Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat


Cara Pembuatan:
  • Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember 
  • Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember
  • Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat
  • Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka
  •  Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan 
  • Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya.

Kamis, 18 November 2010

QURBAN

Bencana banjir di Wasior Papua, gempa & tsunami di Mentawai, dan letusan Gunung Merapi di Jateng dan D.I. Yogyakarta tak pelak mengundang keprihatinan kita semua. Kerugian yang diakibatkan takterhitung lagi, mulai dari korban jiwa manusia dan harta benda sirna tersapu bencana. Kondisi serupa berlaku untuk bidang usaha mereka, yang notabene sebagian besar adalah petani dan peternak. Lahan pertanian mereka tak luput dari terjangan bahaya, pun demikian dengan hewan ternak mereka. Siapa yang salah , “coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang” (lyric lagu Ebbiet G. Ade).
Mungkin sekarang sudah bukan saatnya lagi kita mencari-cari siapa yang salah, yang justru akan membuang energy percuma. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada. Bagaimana kita meminimalisasi dampak dari bencana yang sedang menguji negeri ini? Bagaimana kita bisa segera bangkit berdiri untuk menjadi pemenang?
Bencana yang silih berganti menerpa negeri tercinta ini tak pelak menohok sector pertanian yang merupakan komoditas terbesar di Indonesia. Ribuan hektar sawah dan ladang petani terendam banjir, tersapu ombak, diterjang lahar dingin, dihantam angin, dan terbakar api. Belum lagi kondisi iklim dan cuaca yang semakin tidak menentu, ditambah lagi serangan hama penyakit yang makin merajalela. Pengorbanan dan cobaan yang dihadapi petani kita memang sangat luar biasa di tahun-tahun terakhir ini.
Di sisi lain harga sarana produksi semakin naik tanpa mampu diimbangi oleh kanaikan harga produk pertanian. Kebijakan pemerintah terkadang kurang pro terhadap petani dan justru lebih banyak menguntungkan pengusaha besar. Banyak program pemerintah yang digulirkan dengan maksud meningkatkan nilai tukar petani, tetapi pada aplikasinya banyak petani yang mengeluh karena terhadang oleh rumitnya birokrasi dan adanya pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya sendiri.
Sungguh ironi, di nagara agrasis seperti Indonesia, pembangunan sektor pertanian seringkali dikalahkan oleh kepentingan lain yang nilai manfaatnya jauh di bawahnya bahkan terkadang hanya bermanfaat untuk golongan tertentu saja. Pelaku sektor pertanian hanya dijadikan korban dari kondisi yang tidak memihak.
Kembali lagi, kita tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana solusinya? Bencana alam yang menerjang bangsa ini tidak dapat kita tolak, tetapi kita bisa berikhtiar untuk meminimalisasi kerusakan yang ditimbulkan, kita bisa memulai memperhatikan kelestariaan sumber daya alam kita. Kita harus bisa memulai mengurangi kerakusan dan sifat merusak kita terhadap alam lingkungan sekitar. Solusi utama yang paling tepat untuk kelestarian sumberdaya alam khususnya sumberdaya pertanian adalah peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Tak dapat dipungkiri bahwa SDM pelaku usaha tani di Indonesia sungguh di bawah rata-rata. Pendidikan formal yang mereka terima tak lebih dari sekolah dasar. Sehingga kemampuan mereka untuk kreatif bagaimana mengubah permasalahan menjadi penghasilan masih perlu diasah lagi. Disinilah peran penyuluhan pertanian menjadi sangat vital. Penyuluhan pertanian dengan fungsi utamanya sebagai fasilisator, motivator, organisator, dan konsultan bagi pelaku usaha tani akan dapat merubah perilaku, sikap, dan ketrampilan petani sehingga pelaku usaha tani bisa menolong dirinya dan keluarganya yang pada akhirnya tercapai kesejahteraan.
 Tugas ini tidaklah mudah, oleh karena itu pemerintah dalam upaya revitalisasi pertanian telah memberikan paying hokum dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (SP3K). Akan tetapi undang-undang tersebut pada pelaksanaanya belum sepenuhnya dilaksanakan, masih pada tahap memulai, sehingga berlu ada pendorong untuk percepatan terlaksananya kegiatan penyuluhan yang tujuan akhirnya kesejahteraan masyarakat. Pemerintah memulai upaya ini dengan pengangkatan Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluhan Pertanian (THL-TBPP) untuk memenuhi satu desa satu penyuluh. Langkah ini berhasil meningkatkan kualitas SDM petani khususnya sehingga swasembada beras dapat tercapai.
Pada perkembangannya ternyata penyuluh benar-benar telah menyatu dengan masyarakat tani, mereka sama-sama selalu berkorban. Penyuluh sebagai ujung tombak terdepan dalam menggerakkan pertanian dari titik paling bawah, setali dengan nasib penyuluh, apalagi THLTBPP yang sering di bawah. Dengan semakin banyaknya kegiatan dari Kementrian Pertanian membuat kegiatan penyuluhan menjadi lebih banyak dan kompleks, tetapi kesejahteraan penyuluh dan terutama THLTBPP semakin tidak jelas. Setelah pemerintah hampir memberhentikan kontrak  THLTBPP angkatan 1 pada awal tahun ini, kini setelah mereka 12 bulan bekerja hanya mendapatkan honor 5½ bulan!
Sekarang saatnya pemerintah dan wakil rakyat juga ikut berkorban memikirkan nasib petani, penyuluh, dan semua pelaku usaha tani dan mengupayakan solusi untuk meningkatkan kesejahteraanya. Para elite sudah semestinya turun ke bawah melihat kondisi real yang ada di lapangan, bagaimana petani sangat butuh penyuluh, begitu juga bangsa ini butuh tangan-tangan terampil petani kita untuk menjaga ketahanan pangan dan perputaraan perekonomian kita. Sudah saatnya para elite negeri ini menekan kepentingan individu dan golongan ntuk lebih memikirkan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa dan negara Indonesia tercinta.
Kita semua perlu lebih melapangkan dada, iklas berkorban demi kemajuan pembangunan pertanian di Indonesia. Dengan kerjasama dan sinergi yang abik antara pemangku jabatan, pemilik kepentingan, dan pelaku usaha tani akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani demi terwujudnya negara adil makmur gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharaja.

Rabu, 03 November 2010

T U N G R O

Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya menyerang pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang sering berwarna kuning sampai kuning-oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi. Biasanya beberapa bidang lahan terserang sepanjang sawah. Dua spesies wereng hijau Nephotettix malayanus dan N.virescens adalah serangga utama yang menyebarkan virus tungro.
Mengapa tungro harus dikendalikan?
Tungro adalah satu dari penyakit padi yang paling merusak di Asia Tenggara dan Asia Selatan, dimana epidemik penyakit ini telah terjadi sejak pertengahan tahun 1960an. Malai yang terserang jarang menghasilkan gabah, menjadi pendek dan steril atau hanya sebagian yang berisi dengan gabah yang berubah warna. Pembungaan dari tanaman yang terserang jadi tertunda dan pembentukan malai sering tidak sempurna.
Bagaimana Mengendalikan Tungro?
Varietas tahan. Penggunaan varietas tahan seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tungro. Rotasi varietas penting untuk mengurangi gangguan ketahanan. 
Pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sumber penyakit dan menghancurkan telur dan tempat penetasan wereng hijau. Bajak segera setelah panen bila tanaman sebelumnya terserang penyakit. Pekerjaan ini mungkin sulit diterapkan petani karena memerlukan air dan biaya tambahan. 
Roguing atau membuang tanaman yang terinfeksi. Ini perlu dilakukan kecuali bila serangan tungro sudah tinggi. Bila serangan sudah tinggi maka mungkin ada tanaman yang terinfeksi tungro tapi kelihatan sehat. Mencabut tanaman yang terinfeksi dapat mengganggu wereng hijau sehingga makin menyebarluaskan infeksi tungro.
Tanam benih secara langsung (Tabela). Infeksi tungro biasanya lebih rendah pada tabela karena lebih tingginya populasi tanaman (bila dibandingkan tanam pindah). Dengan demikian wereng cenderung mencari dan makan serta menyerang tanaman yang lebih rendah populasinya.
Waktu Tanam. Tanam padi saat insiden wereng hijau dan tungro rendah.
Tanam serempak. Upayakan petani tanam serempak. Ini mengurangi penyebaran tungro dari satu bidang lahan ke lahan lainnya yang melakuka tanam kemudian. Tanam serempak mungkin sukar dilakuakan karena terbatasnya air dan atau buruh tani waktu tanam.
Bera atau rotasi. Pertanaman padi terus-menerus akan meningkatkan populasi wereng hijau sehingga sulit mencegah infeksi tungro. Adanya periode bera atau tanam lain selain padi dapat mengurangi populasi wereng hijau dan infeksi tungro.
Pilihan Pengelolaan Tungro 
  • Gunakan varietas tahan, terutama bila tanam dilakukan terlambat dari petani sekitarnya.
  • Hindari penggunaan varietas rentan di daerah endemik tungro.
  • Setelah panen, buang tunggul jerami di lahan yang terinfesi tungro dengan bajak dan garu.
Pengendalian juga dapat dilakukan terhadap wereng hijau, dan bila terpaksa menggunakan insektisida gunakan yang berbahan aktif BPMC, buprofezin, etofenproks, imidakloprid, karbofuran, MIPC, atau tiametoksam.